belajar untuk menulis, dan menulis untuk belajar..

Thursday, September 16, 2010

kuman diseberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.

mungkin peribahasa ini terasa pas dengan realitas yg terjadi di antara kita, atau setidak-tidaknya untuk saya pribadi. terkadang kita asyik memikirkan kejelekan orang lain, sampai-sampai kita lupa bahwa kita pun memiliki keburukan yang mungkin tidak kita sadari. sebelum tulisan ini saya buat, mungkin teman-teman yg 'rajin' mengikuti status update saya sering menemukan status saya yang mengkritik pemerintah, mengeluhkan pelayanan publik yang buruk, menyindir atau bahkan menghujat sekelompok orang yang sedang menindas kelompok lain, dan masih banyak lagi.
yah betul, saat itu saya diliputi rasa sebal luar biasa terhadap realita yg terjadi di negeri ini. banyak keluhan dan kekurangan yg tidak ada habisnya dibahas, mulai dari infrastruktur yang kurang memadai, fasilitas umum yang amburadul, pelayanan publik yang jauh dari memuaskan, atau mungkin banyaknya korupsi yang terjadi, atau mungkin juga kesal dengan tingkah anggota DPR yang mungkin kebanyakan tidak memikirkan rakyat yang memilihnya.

lantas, suatu hari saya bertemu dengan sahabat saya. dengan kata-kata yg tidak berkesan sok tahu dia memberi wejangan-wejangan yang membuat saya berpikir ulang tentang diri saya sendiri. betapa naifnya saya, merasa percaya diri membuat status yang provokatif dan mungkin bisa membuat orang lain tersinggung. sahabat saya ini dengan jujur bilang kalau saya ini terlalu naif, lantas dia uraikan secara gamblang kekurangan-kekurangan saya. hmm, mulanya saya tak terima dikritik seperti itu, namun setelah dipikir-pikir, apa yang dikatakan sahabat saya itu banyak benarnya.


kemarin juga saya terinspirasi dengan status sahabat saya kang Dody Mawardi a.k.a Penulis Kreatif, yang mengatakan "Capek juga mendengar, melihat, masyarakat mencerca pemimpin dan aparatur. Padahal, mereka berasal dari masyakarat (kita sendiri). Masyarakat yang berkualitas tidak mungkin (sulit) menghasilkan pemimpin atau aparat yang buruk. Hanya masyarakat yang buruk, yang paling besar peluangnya menghasilkan pemimpin dan aparat buruk. Introspeksi lebih baik bukan?!". 
dalam status tersebut mungkin Kang Dody ingin kita belajar introspeksi diri. kita ini terlanjur menjadi masyarakat frustasi, menyesal dengan keadaan tapi tak mampu mencoba memperbaikinya dengan dimulai dari diri sendiri. kita asyik mengkritik orang lain padahal kita sendiri banyak kekurangannya.

boleh saja mengkritik, bahkan saya pun sampai detik ini kadang masih suka 'nyentil', tapi mesti proporsional dan hati-hati dalam merangkai kata-kata. tidak semua orang memahami apa yang kita sampaikan, alih-alih ingin mengkritik, yang ada malah menjadi  debat kusir yang berujung kesalahpahaman. dulu saya pun sering debat kusir hanya karena status saya yang dinilai 'aneh'. apa yang terjadi? saya jadi 'bete', lawan debat kusirnya apalagi, dan itu sunggu tidak mengenakan. tapi ketika saya membuat status yang 'adem' banyak sekali komentar yang bagus dan akhirnya membuat hati saya begitu damai.

yang ingin saya bagikan di sini adalah pentingnya introspeksi diri. cari teman yang mau mengkritik dan memberi masukan yang konstruktif. setiap kita ini adalah individu sosial, yang selalu dilihat oleh orang lain. kalau ingin hidup kita nyaman, jadilah orang yang baik, tapi bukan pura-pura baik. seperti lagunya kerispatih, kejujuran hati. jujur lah pada diri sendiri, maka kamu akan jujur pula pada orang lain.









No comments: