belajar untuk menulis, dan menulis untuk belajar..

Thursday, September 16, 2010

Sang Pencerah, sekali lagi karya Hanung yang mencerahkan

inilah film Indonesia terbaik sepanjang tahun 2010 menurut saya. tahun ini kebanyakan film Indonesia didominasi film-film horor dan yang berbau seks dan kurang bermutu. syukurlah masih ada Hanung yang dengan apik membuat film tentang perjalanan hidup pendiri organisasi Muhammadiyah, H. Ahmad Dahlan. film ini benar-benar membuat saya menangis dan merinding karena ceritanya yang begitu mengena.
Sang Pencerah bercerita tentang perjalanan Darwis (diperankan Ihsan Taroreh a.k.a Ihsan Idol) yang ketika itu masih 15 tahun, namun diam-diam menggugat syariat ilam yang 'nyeleneh' (bid'ah), yakni ketika masyarakat yang harus membarikan sesejen dan setiap warga harus tunduk kepada perintah Kyai Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo).

Darwis kemudian pergi ke Mesir untuk mengenyam pendidikan dan kembali ke tanah air ketika berumur 21 tahun dan berganti nama menjadi Ahmad Dahlan (Lukman Sardi). Ia pun menikah dengan gadis pujaan hatinya Siti Walidah (Zaskia Adya MEcca, istri Hanung, nepotisme nih, hehe..tp dia benar-benar bagus aktingnya di film ini, suer deh).


konflik mulai mucul ketika Dahlan mengoreksi arah kiblat di tempat Kyai Kamaludiningrat, berbagai perhitungan ia lakukan bahkan sampai dikemukan di pemuka agama, namun malah mendapat pertentangan. Dahlan memiliki 3 orang pengikut setia harus sabar menghadapi hal ini karena memang sulit mengubah kebiasaan yg sudah berlangung lama dan akhirnya melakukan kegiatan secara 'underground'
akhirnya Dahlan dan beberapa pengikutnya mendirikan surau sendiri dan lama kelamaan pengikutnya makin banyak. KYai Kamaludiningrat tentu saja geram dan mulai menghasut warga untuk memusuhi Dahlan. Puncaknya adalah dirobohkannya surau Dahlan dan digambarkan secara amat bagus. krena hal ini Dahlan sempat stres dan berniat pindah, namun dicegah oleh pengikut setianya. Dahlan kembali berjuang dengan mengakrabi lingkungan pendidikan dengn mengajarkan anak-anak di sekolah Belanda dan masuk Budi Utomo. namun perjuangannya selalu dihalang-halangi oleh Kyai Kamludiningrat yang selalu mengecap Dahlan adalah kafir (mirip FPI yah, hehe)
film ini sangat natural dan manusiawi. penggambaran tentang Dahlan yang manusiawi dan tidak berkesan menggurui, lihat beberapa adegan ketika Dahlan mengajar dengan cerdas. beberapa adegan bisa sangat mengejutkan, misalnya ketika Dahlan menjadi guru agama Islam di sekolah belanda, dengan cerdas ia menjadi joker pengawas belanda sebagai si gendut yg ga bisa kentut. atau ketika mau mengjarkan biola kepada muridnya.
adalagi scene yg sebenarnya mudah ditebak, ketika ada pemuka agama yg petantang petenteng masuk ke dalam madrasah milik Dahlan dan berkata bahwa alat2 tulis disini berbau kafir (meja, papan tulis, kapur), lalu ditanya oleh Dahlan, ke sini naik apa? di jawab naik kereta. kereta itu bikinan siapa? kafir! nah loh? hehehe..

Cerita dan skenario ditulis sendiri oleh Hanung Bramantyo secara apik. humor2 yang dibuat pun sangat pas dan mengena. kita bisa menangis, tegang dan tertawa di waktu yang berbeda. dialog2 pun dibuat dengan sederhana dan mudah dicerna oleh orang awam sekalipun. dan film ini pun ditunjang oleh aktor2 yang mumpuni, seperti Ikranegara, Sudjiwo Tejo, dll. jadi membuat kita akan betah berlama2 nonton film ini dari awal sampai akhir.
yah, menurut saya film ini wajib ditonton penikmat film2 bermutu. film ini memang cerita sejarah pendiri Muhammadiyah, bahkan Prof. Dien Syamuddin pun ikut berpromosi agar semua orang Muhammadiyah menonton film ini, tp menurut saya semua orang Indonesia, baik Muhamadiyah, NU, FPI, Persis, Persib, Kristen, Hindu, budha, dan semua lapisan masyarakat perlu menonton film ini.. insya Allah sesuai dengan judul filmnya menjadi pencerah nurani kita untuk saling menghargai antar umat beragama.  Islam dan agama apapun di dunia ini pastilah mengajarkan kebaikan dan kedamaian. kekarasan dan pertentangan hanyalah mebuat kita semua menjadi kerdil.

Bogor, 15 september 2010. pkl 03.50 WIB

No comments: