belajar untuk menulis, dan menulis untuk belajar..

Wednesday, October 6, 2010

susahnya jadi perempuan

Hari ini adalah hari yg melelahkan, hari dimana rutinitas menjadi makanan sehari-hari. Saya kebetulan kemarin membaca tulisan teman tentang sulitnya menjadi seorang ayah. Well, bisa dibayangkan memang ketika seseorang menjadi orangtua, tugasnya akan bertambah.
Tapi saya tentu bukan sedang ingin menyoroti tentang susahnya jd ayah, jauh lebih sulit menjadi seorang wanita. tiap bulan berjuta wanita di seluruh dunia mengalami kesakitan yg amat luar biasa. Yah, istilah kedokterannya sih Post Menstruate Syndrome (PMS).. Di saat sakit melanda, sungguh kata perempuan yg merasakan rasanya ingin bunuh diri saja saking sakitnya. Kadang ada jg yg mengatasi dgn minum kiranti atau feminax, tp tetap saja sakit itu tak dpt hilang..
dan itu harus dialami oleh seorang wanita tiap bulan.. ya, setiap bulan seorang wanita harus mengalami kesakitan yang luar biasa yang tidak akan pernah dialami oleh pria mana pun.


ini baru permulaan, wanita tidak hanya mengalami 'siksaan' bulanan, ketika sesudah menikah dan akhirnya hamil, wanita akan mengalami lagi 'siksaan' yang lebih berat,meskipun tentu saja kehamilan adalah anugerah yang terindah yg diberikan Tuhan tapi nyatanya wanita harus melewati perjuangan berat selama 9 bulan penuh. jangan dikira hamil itu enak, ada perasaan gelisah, sakit, nyeri, sekaligus bahagia bercampur menjadi satu. tidur tak nyenyak makan pun tak enak adalah saat2 yg harus dialami wanita yg sedang hamil. nah ketika kehamilan berujung pada proses melahirkan, inilah saat2 yg paling menyiksa, ada yg bilang seperti bertarung dengan maut. mungkin sudah sering kita lihat ada wanita yg menjerit kesakitan, mencakar2 suaminya, dan histeris karena harus menahan sakit yg maha luar biasa. proses melahirkan adalah proses antara hidup dan mati, dan ketika anak lahir, seluruh kesakitan yg dialami akan hilang dalam sekejap digantikan oleh perasaan bahagia yg luar biasa.
apakah cukup disitu susahnya menjadi perempuan? oh ternyata tidak, setelah anak lahir, tentu yg harus merawat dan menjaga anak adalah sang istri yg notabene adalah wanita. meski tentu ada kontribusi dari sang suami, tetap peran istri lah yg paling dominan dalam merawat anak. siang jadi malam, malam jadi siang, anak rewel, anak sakit, sang istri lah yg biasanya telaten dalam menjaganya.
itulah kenapa banyak perempuan sering mengalami depresi, mudah marah dan emosi. setiap mengalami PMS, perasaan perempuan sangat sensitif. karena dialami setiap bulan, maka sifat sensiif nya itu akan terbawa terus, hingga membuatnya jadi mahluk yg super sensitif (kalo kata orang mah bawaan orok, hehe). pria harus mengerti bahwa sangat sulit menjaga emosi bagi wanita, makanya bila ada sedikit saja masalah dengan pasangannya (baik pacar maupun suami) maka wanita akan uring2an, ngambek, dll. karena sensitif, wanita kan cenderung posesif, agresif dan cemburuan. jadi pria harus sabar dan telaten dalam menghadapinya, bukan malah ikutan emosi dan  berbalik marah.
apa yg saya ungkapkan di sini bukan lah hendak menentang takdir Tuhan, bahwa perempuan memang sudah takdirnya mengalami menstruasi, melahirkan, merawat anak, dll. tapi saya hanya ingin mengingatkan pada kaum adam (termasuk saya tentunya) seharusnya pria harus lebih menghargai perempuan. banyak kasus di mana laki2 melecehkan, memperkosa, menganiaya dan bahkan membunuh perempuan. memang kasuistik, namun lebih sering karena sebagian pria masih merasa dominan dan menganut prinsip patriarki, di mana laki2 lebih berkuasa daripada perempuan.
menjadi perempuan itu tidak mudah, bahkan ada artikel di sebuah media yg menyebutkan bahwa perempuan ketika menikah memililki (kalo tidak salah) 27 pekerjaan dalam hidupnya. sungguh berat. pria dan wanita diciptakan untuk berpasang2an. dalam setiap agama mana pun pasti ada tentang hak dan kewajiban antara pria dan wanita. yang terpenting adalah saling menghormati dan menghargai masing2.

meski kaum perempuan mungkin lebih 'susah' daripada pria, tp perempuan tidak boleh menyesali apa yg sudah ditakdirkan oleh Tuhan. sekarang bagaimana kita bisa memaknai takdir ini sebagai suatu anugerah. positif thingking.

1 comment:

Mutia Muliasih said...

sakitnya memang bikin minta ampun, tapi ngga ampe pengen bunuh diri ;)